Jika ini adalah takdirku…
bolehkah ku berharap..
semenit aku ingin tuk balas kata cinta…
Lagu baru ADA band menyertai malam ini, mengalir pasti dari tape kompoku. Sendiri jauh di pedalaman di ujung pulau jawa ditemani kelap malam dan bintang. Yup, sudah beberapa hari ini aku memutuskan untuk menyelesaikan tugasku yang telah lama terbengkalai. Penelitian tentang perkembangan daerah suaka UKS yang didirikan sejak 2.5 tahun yang lalu.
Hari sudah menunjukan pukul 8 malam, namun mataku masih menatap lekat peta dihadapanku. Peta daerah suaka yang masih belum sempurna terbentuk untuk referensi penelitian dan pengawasan. Secangkir kopi yang mulai mendingin serta asap rokok yang menyala diatas asbak disamping kiriku menjadi teman setia dalam beberapa hari terakhir.. ya, aku memang sedang dikejar tenggat waktu yang sudah sangat mendesak setelah secara tak sengaja ku bengkalaikan setangah tahun terakhir.
Beberapa hari terakhir otakku berpikir keras tentang program apa yang akan kurumuskan dan kuajukan sebagai landasan langkah program suaka kedepan. Dasar permasalahan yang menjadi issue selama ini telah kutuliskan dengan tegas dalam pemetaanku. Tiga point utama yang kudapatkan dari pengamatan dan diskusi dengan ketua operasional lapangan. Emotional pressure dari masyarakat (seperti economic background), penetapan garis batas suaka, serta tuntutan pembukaan hutan industri untuk menggantikan eksistensi ekosistem alami yang ada dari pemerintah daerah.
Untuk dua point yang pertama, jelas dalam pemikiranku rencana program yang bisa dilakukan dengan mendasarkan pada kesadaran diri bahwa eksistensi suaka tidak boleh “mencibirkan” eksistensi keberadaan masyarakat sekitar. Namun point ketiga adalah suatu hal yang secara mendasar tidak bisa diterima, sama sekali tidak ada kegunaan untuk membahasnya (loss-loss solution). In principil itu jelas sudah bicara masalah mendasar tentang definisi suaka itu sendiri. Ekosistem alami adalah soul dari keberadaan suaka, jelas ketika jiwa itu pergi digantikan yang baru maka definisi suaka akan menjadi hilang. Jawabanku jelas, yaitu TIDAK.. dan itu berarti suaka akan kehilangan/ ditinggal pergi pemerintah daerah.
—————————————
Sruuup..! hm… coffee luwak hasil pemburuanku minggu lalu dengan Andi, suaka social adviser,terasa menggetarkan indra pengecap di rongga mulutku bagian depan, sedangkan rasa manisnya menjalari bagian dalam…
—————————————
Hm.. apa yang harus kulakukan? Keputusanku diperlukan dan dinanti oleh anggota tim yang lain. “Mas… tolong arahannya ya mengenai pemintaan pemerintah daerah tersebut.. kita bingung saat ini, karena ini berimplikasi pada menipisnya sumber daya bagi pemeliharaan suaka” kata salah satu anggota tim tadi pagi. Memang benar, Pemerintah Daerah terkesan menyatakan maksud ketidak senangannya atas penolakan kami dalam diskusi 2 bulan yang lalu dengan menurunkan secara drastic support mereka atas suaka.
Hari sudah menunjukan pukul 10.30 malam…
Kuakhiri surat resmiku selaku Ketua tim suaka kepada pemerintah daerah, yang dengan formal sekali lagi menyatakan TIDAK, walau itu berarti bahwa kami akan kehilangan pemerintah daerah. Ironis memang. Namun semangat akan pemahaman arti kata suaka membawa aku mantap memasukan surat itu kedalam amplop resmi suaka. Selagi aku masih punya kesadaran diri sebagai pemimpin disini. Segera mereka akan menerimanya. Segera kami akan terpisah.
——————————————–
Fuh…! hembusan asap rokok terbang bebas ke angkasa ruang kerjaku, bebas dan takkan pernah kembali lagi…
——————————————–
“Bang Bahar…. Makanannya sudah dingin nih… jadi makankan? Aku angetin lagi ya….” Terdengar teriak dari Sari, gadis dari daerah terpencil yang ingin menjadi anggota suaka.
“OK…! aku sudah selesai kok… lagi matiin computer…!” teriakku sambil segera bergegas…
Suaka, ekosistem alami, terpisah, bebas dan takkan pernah kembali lagi.
Menjelang jam sebelas malam,
Sendiri jauh di pedalaman ujung pulau Jawa.