in the map…

September 21st, 2008 by asrrik

Perjalananku telah melalui ambang kota.  Pengelanaan ku telah membuat tembok-tembok tegar penuh dengan kenangan perlahan tak nampak lagi dimataku. Jalan baru yang lain telah membentang di hadapanku. Menggantikan ribuan jalan yang telah terlalui dalam peta pengelanaanku. Kini ku terdiam, terhenti dan bersandar, berusaha menentukan langkah. raut letih pastilah nampak dalam gurat wajah dan seringaiku. Sedikit meradang menahan peluh di sebuah naungan atap supermarket yang ramai yang menjajakan seribu satu kebutuhan kehidupan.  Asam, garam, pedas, manis.

Panas mentari membuatku malas beranjak. Naungan atap terus menggodaku untuk bertahan dan diam dibawahnya. Semilir tawa dan canda penghuni supermarket dan tamu-tamunya kala ini menjanjikan kegembiraan yang selalu menjadi tujuan kehidupanku. Hiruk pikuk kehidupan sepermarket itu pun membuaiku,  membiusku untuk tidak melangkah. 

(huh..!!!) kukuatkan tekadku. Kumabil kembali tas ranselku. Melangkah. Merasakan panas hati, meninggalkan atap yang menyejukan. Melangkah memasuki kemungkinan terguyur lebatnya hujan dan berusaha untuk tetap terjaga dan bugar.  Sambil menyeka keringat di dahi, ku memasuki bus route 30 yang telah berdiri tegak dihadapanku…

Mery…

December 25th, 2007 by asrrik

Cepat ku balut luka di pergelangan tangan Mery. Darah yang tadi mengucur agak deras nampak perlahan mulai berhenti. Sambil meringis menahan sakit Mery memandangku dalam dan tersenyum mengucapkan rasa terima kasihnya. Ku tatap lembut wajahnya dan membalas senyumnya.

Perasaan lega begitu deras menguasai emosi jiwaku mengalahkan detak jantung yang masih memburu selepas menyelamatkan Mery yang nyaris tergelincir kedalam jurang di sebelah kiri kami. Tertupi oleh Halimun gunung Kerinci yang tiba-tiba dating menyergap menutupi jalan setapak yang kami lalui. Mery yang berada beberapa langkah di belakangku seketika panic dan hilang orientasi dalam langkahnya hingga menyimpang sekitar satu meter dari jalur yang seharusnya. Satu meter kekiri yang berarti mulut jurang yang dalam. Untunglah jaraknya tak terlalu jauh dariku sehingga kesigapanku masih mampu meraihnya walau untuk itu lengan Mery terluka oleh cadasnya batu alam dipnggiran jurang tersebut.

Yup bayangan kejadian itu masih segar di mataku, kejadian satu tahun yang lalu dalam ekspedisi kampus kami ke ranah sumatera, gunung kerinci sumatera barat. Kini kami adalah sepasang kekasih yang dalam hitungan beberapa minggu lagi akan menapakkan langkah kami dalam kehidupan perkawainan. Mery dan Ryan. Dibalik kemandiriaannya Mery menyimpan kelembutan hati dan kasih sayang yang meninabobokan ku , meredam panasnya pergulatan duniawi. Mery kini adalah tujuan dan asal langkahku.

“ayo… kok bengong… mikiran apa sih?” goda Mery menyadarkanku di hari itu dari lamunan. Mery tersenyum mesra dan memegang erat kedua tanganku. Aroma wangi tubuhnya begitu akrab di penciumanku. “Akh enggak kok… aku hanya mau bilang kalau aku sayang banget sama kamu..” jawabku jujur dan membalas genggaman tanggannya. “Hm… ngerayu ya..” Mery menatapku, mencubit manja lenganku dan kemudian sambil masih tersenyum melanjutkan belanjanya. Ya, dalam rangka persiapan pernikahan kami. Indah rasanya menunggu untuk Mery. Kerasnya kehidupan ku telah teredam oleh ketulusannya.

_____________ …………………….. .

“Ryan.. aku tahu ini semua sangat berat bagimu, bahkan mungkin aku pun tak mampu menyelami perasaanmu, tapi doaku agar ketabahan selalu dianugerahkan-Nya sama kamu ya…”

“Man…. G gak tahu harus bilang apa sama elo, but, please just call me whenever you need something..”

“Ryan, sabar ya nak… Setiap yang bernyawa itu pasti akan mati, segala sesuatu akan kembali pada-Nya….”

Dengan tubuh  yang masih lemah dan perban di bahu kananku, ku saksikan kekasihku masuk ketempat peristirahatan terakhirnya… menyisakan kepedihan dan kehampaan.

Sebuah Koran yang tertinggal dari pelayat tertiup angin yang berhembus dan pergi..

“Sembilan orangg tewas dalam penembakan di Massachutes, Amerika. Seorang mahasiswi

Indonesia

turut tewas”

–> Sebuah Cerpen yang dibuat sambil bengong gak ada kerjaan di sebuah ruangan……. RKA

Pilihan

November 4th, 2007 by asrrik

Berjumpa dengan beberapa kawan yang sudah cukup lama tidak bertemu, membuat beberapa bahan perenungan mengisi ruang kepala g. Terutama ketika g hubungkan tentang lokasi pertemuan yang kita set di kantin kampus kami dulu. Cowok dan cewek muda dengan kesegaran pemikiran dan keceriaan penampilannya menggugah eksistensi keberadaan g didunia yang ternyata sudah cukup lama dalam relativitasnya umur manusia.

Bicara relativitas keberadaan, g ingat ketika seorang teman g bicara tentang kegelisahannya. Keinginan untuk keluar dari Comfort Zone nya sebagai seorang eksekutif muda di sebuah perusahaan MNC. Kinginan untuk bicara pada hati nuraninya bahwa ini semua sudah cukup, g ingin keluar dan mengejar mimpi g yang lain, memberikan footprint atas eksistensi keberadaan g bagi kebaikan kemanusiaan. Dari ceritanya, g clear bahwa bukan ketenaran yang ingin dicarinya, bukan pengakuan eksistensi yang dicarinya, tapi lebih dari itu, eksistensi atas kepuasan jiwa yang sesungguhnya dipenuhi oleh jiwa welas asih. Jiwa yang kerap kali terkubur didalam lingkar kebutuhan dan hawa nafsu. Yup, sebuah pilihan.

Ada

yang bilang bodoh, naïf, ada yang bilang mungkin sedang bosan so perlu istirahat, ada yang bilang Good, lo beruntung udah mencapai titik pemikiran seperti itu dan mempunyai keberanian untuk melakukannya, dan lain-lain pemikiran yang penuh dengan subjectivitasnya.

Tapi dari sekian banyak obrolan warung kopi yang pernah g lakonin, g inget bahwa lebih dalam tingkat keyakinan 95%, semua orang dalam lingkaran obrolan g, selalu bilang bahwa mempunyai footprint eksistensi keberadaannya untuk kemasalahatan umat adalah hal yang ideal yang ingin mereka capai. Jika… jika mereka punya kemampuan.

Ini hal lain yang menjadi menarik buat di bicarakan. Konsep “jika” yang seringkali saya lihat menjadi pembunuh karakter dan pemikiran kemajuan. Dan kerap kali konsep “jika” ini lah yang membuat comfort zone justru menjadi sebuah tujuan bukannya sebuah peringatan dini akan pengkerdilan kreatifitas. “Jika” menjadi sebuah tempat persembunyian dari sebuah ketidak beranian, menjadi sebuah ceruk perlindungan dalam hutan rimba tantangan dan kesempatan.

Budaya “Make thing happen” kurang membumi atau bisa dibilang memang merupakan budaya yang mahal dalam kehidupan bangsa kita. Budaya “Nerimo” justru menjadi sebuah identitas yang (maaf) lucunya menjadi sebuah ikon kebanggaan akan sikap legowo. Teringat ucapan seorang sahabat yang berbicara keras tentang budaya nerimo ini, bicara dalam letupan kekesalan akan suatu budaya yang dia cap sebagai salah satu akar keterbelakangan bangsa ini. Tidak mengeliat. Mati suri.Mati.   

C.A.T

October 16th, 2007 by asrrik

C.A.T

Seperti cahaya timur yang muncul dari jauh

Terang menyejukan

Membawa energy dalam jiwaku

Kuterpaku memandangmu

Datang mendekat dengan sejuta pesonamu

Sambil melihat sekilas kepadaku

Kau sembunyikan wajahmu

Malu namun kutahu kau tahu ku merindu

Kuhampiri perlahan dengan sejuta cinta yang memujamu

Entah apa permainan sang waktu

Namun sepi serta hampa hati dan jiwa tanpamu

Tanpa kau mau datang dan diam dalam pelukanku

(waktu// ….senyum….)

Kau suapi aku dengan makanan cintamu

Kau izinkanku minum dari cangkirmu

Kau buai aku dengan kata-kata namaku dari bibirmu

Kau izinkan aku untuk diam sambil memelukmu

Hening sembari kucium aroma cinta dari candamu

Kau ceritakan tentang cerita lama tentang kita

Tentang tempat dimana kita pernah berdua

Bercanda dan bernyanyi bersama

Memandang cahaya dan detik waktu yang berirama

Dalam dua jam bersamamu

Kuhimpun beribu kenangan indah tentangmu

Kini kau pergi

Lambaian tanganmu terasa segar dimataku

Senyummu membuatku terdiam dalam hening

Kini kau pergi

Dan aku kembali merenungi perjalanan ini.

A.141007

Akh… jika saja kau tidak berubah..!!!

September 1st, 2007 by asrrik

Harus ku akui semangat nasionalisme dalam diriku bangkit kembali ketika ku dengar melalui media bagaimana Malaysia yang katanya adalah ”serumpun” dengan Indonesia, kembali memberikan bentuk pengkhianatannya.

Tidak perlu rasanya definisi pengkhianatan ini ku jabarkan lebih dalam, cukup dengan memberikan materi untuk self questions dalam bentuk kata “saudara tua” dengan “penyiksaan, ketidak adilan, pelanggaran tapal batas, perebutan wilayah kedaulatan, hingga keangkuhan dalam bentuk intitusi politik, etc….”

Tidak perlu rasanya bagaimana aku merasa terusik oleh sikap Najwa, fasilitator dalam sebuah diskusi di Metro TV beberapa hari lalu, ketika tawa dan senyumannya memperlihatkan ketidak profesionalismenya (dalam kaca mata saya tentunya) dalam menerima, dan menjembatani sudut pandang seorang Ali dari DPR-RI yang memberikan komentar tegasnya atas tuntutan kepada pemerintah RI untuk melakukan langkah-langkah politis dalam menyikapi pengkhianatan Malasia. Sebuah tuntutan dari seorang anggota Dewan yang berasal dari komisi 1, komisi pertahanan, komisi yang secara jelas meinventarisir data-data pelanggaran hak kebangsaan kita, terutama oleh Malaysia tentunya, negara tetangga yang perlu/sedang “belajar” arti kata seorang “saudara”.

Namun perlu rasanya aku sedikit kembali bercerita tentang cerita lama, tentang sebuah bangsa yang bangga atas tanah airnya, yang bangga atas bangsanya, yang bangga atas bahasanya, yaitu

Indonesia

.

Harus ku akui, aku mendambanya.

“Majulah Negeriku… Majulah Bangsaku….

Bangsaku, Rakyatku semuanya…..

Bangunlah Jiwanya.. Bangunlah badannya…

Untuk

Indonesia

Raya….

Indonesia Raya…

Merdeka… Merdeka… Hiduplah Indonesia Raya..!!!

Salam hormatku kepada saudara sebangsaku, ABRI, yang berada di garis depan kedaulatan Bangsaku…

Sabtu Malam, ditengah suara Al-Quran dari Masjid dekat tempat tinggalku

Bekasi

.

July 7th, 2007 by asrrik

Jika ini adalah takdirku…

bolehkah ku berharap..

semenit aku ingin tuk balas kata cinta…

Lagu baru ADA band menyertai malam ini, mengalir pasti dari tape kompoku. Sendiri jauh di pedalaman di ujung pulau jawa ditemani kelap malam dan bintang. Yup, sudah beberapa hari ini aku memutuskan untuk menyelesaikan tugasku yang telah lama terbengkalai. Penelitian tentang perkembangan daerah suaka UKS yang didirikan sejak 2.5 tahun yang lalu.

Hari sudah menunjukan pukul 8 malam, namun mataku masih menatap lekat peta dihadapanku. Peta daerah suaka yang masih belum sempurna terbentuk untuk referensi penelitian dan pengawasan. Secangkir kopi yang mulai mendingin serta asap rokok yang menyala diatas asbak disamping kiriku menjadi teman setia dalam beberapa hari terakhir.. ya, aku memang sedang dikejar tenggat waktu yang sudah sangat mendesak setelah secara tak sengaja ku bengkalaikan setangah tahun terakhir.

Beberapa hari terakhir otakku berpikir keras tentang program apa yang akan kurumuskan dan kuajukan sebagai landasan langkah program suaka kedepan. Dasar permasalahan yang menjadi issue selama ini telah kutuliskan dengan tegas dalam pemetaanku. Tiga point utama yang kudapatkan dari pengamatan dan diskusi dengan ketua operasional lapangan. Emotional pressure dari masyarakat (seperti economic background), penetapan garis batas suaka, serta tuntutan pembukaan hutan industri untuk menggantikan eksistensi ekosistem alami yang ada dari pemerintah daerah.

Untuk dua point yang pertama, jelas dalam pemikiranku rencana program yang bisa dilakukan dengan mendasarkan pada kesadaran diri bahwa eksistensi suaka tidak boleh “mencibirkan” eksistensi keberadaan masyarakat sekitar. Namun point ketiga adalah suatu hal yang secara mendasar tidak bisa diterima, sama sekali tidak ada kegunaan untuk membahasnya (loss-loss solution). In principil itu jelas sudah bicara masalah mendasar tentang definisi suaka itu sendiri. Ekosistem alami adalah soul dari keberadaan suaka, jelas ketika jiwa itu pergi digantikan yang baru maka definisi suaka akan menjadi hilang. Jawabanku jelas, yaitu TIDAK.. dan itu berarti suaka akan kehilangan/ ditinggal pergi pemerintah daerah.

—————————————

Sruuup..! hm… coffee luwak hasil pemburuanku minggu lalu dengan Andi, suaka social adviser,terasa menggetarkan indra pengecap di rongga mulutku bagian depan, sedangkan rasa manisnya menjalari bagian dalam…

—————————————

Hm.. apa yang harus kulakukan? Keputusanku diperlukan dan dinanti oleh anggota tim yang lain. “Mas… tolong arahannya ya mengenai pemintaan pemerintah daerah tersebut.. kita bingung saat ini, karena ini berimplikasi pada menipisnya sumber daya bagi pemeliharaan suaka” kata salah satu anggota tim tadi pagi. Memang benar, Pemerintah Daerah terkesan menyatakan maksud ketidak senangannya atas penolakan kami dalam diskusi 2 bulan yang lalu dengan menurunkan secara drastic support mereka atas suaka.

Hari sudah menunjukan pukul 10.30 malam…

Kuakhiri surat resmiku selaku Ketua tim suaka kepada pemerintah daerah, yang dengan formal sekali lagi menyatakan TIDAK, walau itu berarti bahwa kami akan kehilangan pemerintah daerah. Ironis memang. Namun semangat akan pemahaman arti kata suaka membawa aku mantap memasukan surat itu kedalam amplop resmi suaka. Selagi aku masih punya kesadaran diri sebagai pemimpin disini. Segera mereka akan menerimanya. Segera kami akan terpisah.

——————————————–

Fuh…! hembusan asap rokok terbang bebas ke angkasa ruang kerjaku, bebas dan takkan pernah kembali lagi…

——————————————–

“Bang Bahar…. Makanannya sudah dingin nih… jadi makankan? Aku angetin lagi ya….” Terdengar teriak dari Sari, gadis dari daerah terpencil yang ingin menjadi anggota suaka.

“OK…! aku sudah selesai kok… lagi matiin computer…!” teriakku sambil segera bergegas…

Suaka, ekosistem alami, terpisah, bebas dan takkan pernah kembali lagi.

Menjelang jam sebelas malam,

Sendiri jauh di pedalaman ujung pulau Jawa.

April 1st, 2007 by asrrik

Hahaha.. memasak!

mungkin dulu g gak pernah berpikiran bahwa memasak adalah ssesuatu yang bakal menyenangkan. Berawal dari kebutuhan akhirnya memasak menjadi sebuah "hoby" baru sambil mencari solusi pemikiran atas berbagai masalah kantor dengan due date nya yang ketat.

Mengingat filsafat teman "di laut dan didarat kita harus siap.." g rasa memasak juga merupakan manifestasi hal yang sama. Dari Standar Operating Procedure, Laptop, Teleconference, Kunyit, Lengkuas, Bawang, hingga sedikit bunga delapan untuk memperkuat aroma rempah dalam masakan… Hahaha.. kadang memang harus tertawa juga rasanya ketika teman bilang "lo kayaknya emang bisa bikin rumah makan bos..! sambil terlihat sesekali menahan pedas yang katanya "menendang" setelah menyantap 2 - 3 piring nasi.

Kehidupan pun seperti memasak.. diperlukan rasa manis yang membawa gurih, asin yang memberi sensasi, asam untuk mengalahkan aroma yang "amis"serta rempah untuk memberikan kekuatan cita rasa. Tanpa garam maka kehidupan pun akan terasa menjemukan seperti jemunya kita pada keadaan yang statis..hambar. Kehidupan menawarkan "luka" sebagai sumber penempaan untuk memperoleh cita rasa seperti halnya kehidupan menawarkan cinta dan nafsu untuk memberikan rasa manis dan candu kenikmatan.

Seperti halnya ketika kita menumis dalam minyak panas hasil blender-an 4 siung bawang merah, 1/2 siung bawang putih, kunyit sepanjang telunjuk g, Jahe sebesar 2 jempol g, kemiri 4 biji, dan tentunya 1 1/2 genggam besar cabe merah yang segar… kehidupanpun memerlukan pencampuran yang cermat atas segala variasi dasarnya. Kadarnya? hehehe tentunya tidak bisa disamakan dengan ukuran jari telunjuk atau jempol g diatas.., g juga gak tahu sebenarnya.. but at the end biarkan mereka mengalir, lalu lihat dan dengarkan. Oh ya.. seperti juga minyak panas.. tungku api atau Kawah Candradimuka (is ti right?) kata  buku Mahabarata yang g pernah baca waktu SMP dulu, g rasa memang itu juga kita perlukan dalam kehidupan. Mulai dari yang namanya diputusin/mutusin pacar, digebukin/ngegebukin orang waktu fight satu lawan satu atau dikeroyok orang rame, presentasi didepan bos yang pagkatnya tuinggi buanget, sampai diomelin sama orang India untuk sesuatu yang jelas-jelas seharusnya malah g yang harus marah sama dia.. semua adalah mekanisme "penumisan" dari proses pembuatan "gulai" kehidupan. Biar Wangi…

karena ketika "adoanan"tadi sudah menciptakan aroma harum yang menggoda, barulah secara perlahan kita masukan kedalamnya santan kelas dua (g gak tahu istilahnya, tapi yang g maksud adalah bukan sari pati santan-nya). Kenapa gak lansung sari pati santan nya? hm… itu proses nya sayang … proses yang akan meratakan seluruh bumbu tadi kedalam kuah gulai yang sedang kita godok. Yup.. seperti kehidupan yang juga menawarkan istilah proses…, yes.. a process.. lo kudu sabar dan perlahan melewatinya, or lo akan kehilangan kenikmatan akhir.. emang sih kepulan asap dan panasnya api akan memberikan godaan bagi kita untuk menjadi tidak sabar dan kemudian menjadi tergesa-gesa.. tapi ingat kembali akan tujuan awal (definisi, content, and principles..).

Ketika "adonan" tadi sudah mendidih, masukanlah 2 batang serai,  lengkuas sebesar 1 ruas jari g, buah delapan, dan sepotong kecil asam kandis. Aduk perlahan sambil masukan sari pati santan kedalamnya… hm.. hiruplah aromanya.. aroma kekuatan bumbu dan santan akan bersatu. Hirup dan resapkan… bagaimana kekuatan perjalanan, waktu, dan kerja keras memberikan sensasi manis dan gairah kenikmatan di lewat setengah perjalanan… lakukan "adjustment" atas cita rasa, masukan garam kedalamnya untuk menguatkannya.. jangan terlalu sedikit dan juga jangan terlalu banyak… ambillah sedikit.. cicipi… rasakan kekuatan cita rasa itu mengalir dalam syaraf-syaraf lidah kita… seperti kearifan insan yang berjalan seiring dengan penempaan sang waktu.

Terakhir… ditengah mendidihnya "adonan" tersebut masukanlah potongan- potongan 1 ekor ayam yang ranum kedalamnya… biarkan bumbu-bumbu tadi menjalar dan meresap kedalam setiap inci tubuhnya… biarkan ayam tadi berenang dengan bebas.. atau gaya katak.. atau gaya punggung.. :) biarkan ayam mabuk dalam senandung jahe, kunyit, cabe, lengkuas,  dan kawan-kawannya yang lain.. Hehehe…. biarkanlah 20 puluh menit sambil terus diaduk… lalu matikan api… seperti halnya diri yang mengaliri masyarakatnya dengan kebaikan yang telah diperolehnya dari proses penempaan sang waktu, seperti halnya seorang insan yang sujud dihadapan Tuhannya dengan memberikan amal baktinya atas suatu keyakinan akan kebaikan sebelum akhirnya kembali bergerak menuju sang Khalik, mati/ padam..

Hahaha.. sepanci gulai Ayam telah siap….

Teringat kembali akan filsafat teman, "dilaut dan didarat kita harus siap.. !"

………………../……../……………../………..

March 16th, 2007 by asrrik

Dalam perjalanan tentulah sebuah tujuan mempunyai arti yang sangat penting walaupun hanya dalam sebuah perjalanan relaksasi. Tujuan memainkan peran penting dalan pengukuran kepuasan atas pencapaian yang diperoleh. Perjalanan hidup layaknya sebuah naskah drama kontemporer yang memberikan alur dan profil penokohan yang bersifat fleksibel dalam pemberian improvisasi dan penekanan. Setting tempat dan waktu memberikan pengalaman emosional dalam diri si tokoh ataupun para penonton.

Perjalanan bukanlah sebuah jalan yang hanya lurus mulus tanpa ganjalan, namun jauh lebih dari itu, perjalanan memperkenalkan kata "kiri", "kanan", putar arah, kembali, istirahat, atau bahkan berlari dan berhenti. Berhenti dalam arti pengkoreksin arah/tujuan, atau bahkan mati.

Dalam berhenti, dasar penekanan adalah kata Enough! atau Cukup! Enough is Enough…. Cukup ya Cukup!  No more journey for this such thing. Koreksi kembali pada tujuan awal. Pada suatu kata keabadian, pada sesuatu yang mengandung kekekalan, tanpa penghianatan. Sakit adalah sesuatu hal yang wajar, sakit adalah bukti akan kemampuan perjalanan, yaitu kehidupan.

And the journey must be go on….. !

dipersimpangan jalan, disiang yang panas…

Dipinggir Sungai…

March 11th, 2007 by asrrik

Menyaksikan mereka yang berdiri santai bercengkrama dengan teman-temannya di depan "clinic" terasa menyenangkan bagiku yang coba menghabiskan waktu di akhir weekend bersama kawanku yang baru saja tiba dari Jakata. Wajah-wajah manis yang bercengkrama, tertawa dan gembira dengan para pemilik wajah manis yang lain (Ada juga cowoknya sih.. tapi kok rasanya gak enak ya bilang "dengan pemilik wajah yang ganteng" ehm.. agak gimana gituh, terus kalau bilang jelek.. hm.. kok jadi lebih gak enak lagi :) Hahaha.. tak terasa waktu terus berlanjut kami putuskan untuk kembali melangkah menyusuri sungai yang penuh dengan gemerlap kehidupan malam itu. Melewati tarian air ditengah-tengah keramaian malam menawarkan suasana santai dan rileks, itu pula nampaknya yang dirasakan oleh beberapa kelompok lain yang dengan santai duduk menikmati pantulan cahaya bulan di atas jembatan di riverside. Sambil sesekali mengambil gambaran kehidupan gemerlap dengan kamera kesayangan, kami terus melangkah melewati koridor-koridor yang dipenuhi tawa genit, lepas, dan penuh ekspresi dari orang-orang yang "bersilaturahmi" dengan segelas coke, wine, atau alkohol jenis lain ditangan. Ya.. aroma alkohol terasa ikut menyemarakan suasana.. Hm.. tak terasa malam semakin larut, waktu seakan berjalan begitu cepat ketika kebahagian sedang  meliputi jiwa dan sekitar kita. Kondisi sebaliknya akan terjadi ketika kesendirian mencekam hari-hari kita, sendiri.

Ditepi sungai, di malam hari, diujung weekend

Ketika nama waktu berganti…

February 17th, 2007 by asrrik

Tadi malam kembali suara-suara itu terdengar dari balik tembokku, menyeruak dan membangunkanku… dengan perasaan yang tak menentu sikap waspada mendominasi diriku, perlahan di tengahnya malam kulihat sebagian wajahnya.. merah menyemburatkan garis-garis api… akh.. kesadaranku seketika terkumpul. Cepat kuambil handycam dan kuarahkan padanya… wajah merah yang tegas dalam garis-garis api…. Hai!!! teriakku kuat namun tiada suara yang keluar, kerongkonganku tercekat… Tuhan… inikah waktunya?.. Panas dan dingin menyeruak cepat ditubuhku ketika garis-garis api semakin jelas terlihat menyeruak di kegelapan…